Mayor Abdullah
Kamis, 24 Januari 2013
Kisah Mayor Abdullah dalam buku "Sedjarah Bataljon Y"
Mayor Abdullah gugur pada tgl 25 September 1950 dalam pendaratan di Negeri Angar Ceram Timur. Saat itu jabatannya komandan batalyon XVII Divisi Brawijaya. Dan keberadaannya dalam medan pertempuran, dalam rangka penumpasan pemberontakan RMS.
Sebelum tahun 1945, pekerjaan Abdullah yang asal Gorontalo itu adalah sebagai “Tukang Beca”. Dirinya butah huruf sampai tahun 1947. Dan baru bisa membaca tulis atas bantuan istrinya. Tapi sebagai orang Auto Didact, Abdullah berhasil mencapai karirnya yang cukup tinggi yaitu komandan batalyon. Dalam peristiwa pertempuran Surabaya 1945, Abdullah bersama arek2 Surabaya lainnya, bertempur melawan serdadu asing. Saat itu mula2 bergabung dengan BKR Laut, kemudian menjadi TKR laut (belakangan TLRI) yang merupakan pasukan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Pangkalan VII yang bermarkas didaerah Tanggulangin.
Pada tahun 1946, Abdullah memimpin pasukan yang diberi nama “Bajak Laut”. Pasukan ini mampu bertahan disebelah utara Sidoarjo. Dalam pertempuran disekitar Buduran-Sruni, Abdullah mampu memperlihatkan kecakapannya dan keberaniannya. Karena kemampuannya memimpin pasukan itulah pada April 1947, dia di-serahi memimpin barisan “Pelopor” dengan pangkat Kapten. Ketika TLRI direorganisir pada Maret 1948, Barisan Pelopor berubah menjadi “Depot Batalyon”. Markasnya juga pindah kesekitar Lawang. Sebagai komandan Abdullah naik pangkat menjadi Mayor. Berdasarkan dekrit wakil Presiden, September 1948, TLRI dilebur menjadi TNI. Dan Depot Batalyon, menjadi Batalyon XVII, Brigade I Divisi Brawijaya dibawah Kolonel Sungkono. Perlu diketahui, ketika berlangsung perundingan Linggajati Kapten Abdullah adalah pimpinan pasukan TLRI yang bertugas didaerah Kuningan.
KORANBOGOR.com, BANDUNG -
Matanya buta akan huruf dan angka
tak menjadi beban membela Negara
Lahir di Gorontalo berprofesi menjadi tukang becak
tapi itu yang membuat kaki kaki kecilmu kuat besi baja
Hari berangin kencang,
Abdullah memasuki kancah prajurit
menjadi komandan TKR laut
berperang di Surabaya
Sebelum matahari meninggi dihari pertama
ia dan arek arek mengencangkan niat
terdengar seruan berkobar membakar semangat
seorang yang di kenal Bung Tomo
Jantung nya terus terpompa
darahnya mengalir deras
tuk menumpah para biadab
Majuuu!
teriaknya menggema di atas kapal
mengerahkan seluruh awak
menerjang setiap halangan yang datang
berlayar di utara Sidoarjo
Tangannya handal apapun bisa ia lakukan
matanya tajam memandang
laksana garuda yang siap menerkam
Deru ombak kencang angin
tak di hiraukanya
menyerbu sekutu hingga ke hulu
pasukan bajak laut terus menyerbu
Banyaknya tentara yang gugur
tak mengurungkannya
ia semakin kuat dan tak terbendung
Hari semakin larut
semangatnya tak pernah surut
Merdeka !
teriaknya di gaung malam
Kala semakin malam
bulan makin tinggi lautan semakin pasang
batlyon hincit menikam kelam
lawan yang tak sepadan
Ini bukan menyerah
perlawanan lebih dari sebulan
terus dilakukan tanpa keraguan
Walau kini Surabaya jatuh
hatinya tetap angkuh
Hingga suatu saat kembali di rengkuh
Malam berangin dingin
membisik rambut cepak yang tlah panjang
melamun di kesunyian malam
mengenang kawan seperjuangan
yang gugur di medan peperangan
Setelah bertaun lamanya
Surabaya kembali kepangkuan
Lewat aksi aksi yang tak takut mati
:Linggajati, ia memipin TLRI
dari komandan menjadi mayor
Kini ia tak lagi buta akan huruf dan angka
sang istri mengenalkan padanya
Sekali lagi,
Mayor Abdullah memimpin
tugas menumpas RMS
Malam begitu mencekam
angin tak mau datang
peluru menembus kulit yang tak lagi tebal
Gugur sudah Mayorku
Di sana di Negeri Angus Ceram Timur
tepat 25 September 1950
menjadi pertempuran terakhirmu
Selamat jalan Mayor
darah mu tlah membasahi pertiwi
jasad mu terkubur tanah negeri
semangatmu kan selalu bersemayam dalam hati
Abdullah, Mayor Abdullah
oleh: Septian Rizki Subagja, peserta Lomba Puisi dan Sajak www.koranbogor.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar